Tuesday, November 25, 2008

Lucerne, Wajah Asli Swiss


Jembatan tua – Kapellbruecke, sebuah jembatan kayu dengan sebuah menara air yang begitu terkenal.

Lucerne – ”Truely Switzerland,” begitu komentar seorang turis Australia tentang kota ini. Dan memang kota kecil ini berpenduduk 60.000 jiwa mencerminkan wajah asli Swiss. Bangunan tua serta dialek bahasa Swiss-Jerman (salah satu bahasa resmi Swiss) yang agak melodius kerap terdengar. Sementara di Zuerich, meski berbahasa Swiss-Jerman, dialeknya agak militeristik alias kaku nyaris seperti di Jerman.

Lucerne memang dikenal salah satu trade mark Swiss. Kota kecil yang terletak di pinggir danau berbeda dengan Zuerich, kota terbesar di negeri ini, berpenduduk 350 ribu jiwa. Dari penduduknya Lucerne juga kalah jauh dibandingkan Basel, Jenewa atau Bern. Tapi untuk urusan pariwisata, kota kecil di Swiss Tengah ini bisa melompati kemegahan kota kota di Swiss itu. Lucerne memang dikenal sebagai salah satu tujuan tetirah di ranah Eropa. Saban ada tur ke Swiss, kunjungan ke Lucerne seperti tak pernah dilewatkan.
Begitu menginjak stasiun kereta api kota ini dan menyeberang jalan menuju kawasan Altstadt (kota tua), ratusan dan mungkin juga bisa ribuan turis asal Asia seperti disemburkan dari bus-bus besar khusus pariwisata itu, menyesaki ruas-ruas jalan kota indah ini.
Industri pariwisata di Lucerne bersaing ketat dengan industri jasa paling terkenal di Swiss lainnya, semacam bank atau asuransi. Setahun, Lucerne mampu menarik sedikitnya 5 juta wisatawan. ”Karena perang Irak dan juga sars, tahun ini turis yang datang tidak makin banyak,” tutur Angela Kaufmann dari kantor statistik kota ini.
Dan jangan kaget, data dari biro statistik Lucerne menunjukkan, turis asal Indonesia mencapai 4.237 untuk tahun 2001 serta meningkat menjadi 5.396 untuk tahun kemarin. Memang jumlah ini masih kalah jika dibandingkan dengan jumlah turis asal negeri makmur macam Amerika, Korea Selatan, Jepang atau Cina.
Desa Nelayan
Sebelum terkenal seperti sekarang ini, Lucerne hanyalah desa nelayan. Masyarakat setempat memanfaatkan Danau Lucerne sebagai salah satu sumber penghidupan, di samping menjadi petani dan peternak tentunya. Tapi sejak jalur di pegunungan Alpen di San Gotthardo dibuka yang menghubungkan Swiss Tengah dan Italia tahun 1220, kota nelayan kecil ini lambat laun berkembang seperti sekarang.
Sayang, entah apa sebabnya, Danau Lucerne bukan danau yang ideal untuk memancing. Ikan-ikan di danau berwarna jernih ini tidak sebanyak ikan di danau kanton (provinsi) tetangganya, seperti Danau Zug. Ada yang menyebutkan, ganggangnya tak sebagus atau sebanyak di Danau Zug.
Lucerne yang dipandang sebelah mata akhirnya tumbuh menjadi kota kecil yang menawan. Baik karena budayanya yang relatif masih Swiss, juga karena landskap kota ini yang masih kuno dan alamnya yang terpelihara amat rapi. Di beberapa kota satelitnya seperti Meggen, Kriens, Emmen, Kuessnach, Littau hingga Ebikon, kerap ditemukan masyarakat Swiss yang memelihara ayam atau kelinci. Tak jarang, saban akhir pekan terdapat pameran kelinci dan ayam yang jumlahnya sekitar 50 ekor saja.
Namanya juga hobi, kendati hanya belasan ekor jumlahnya, tetap saja orang sini nekad memamerkannya. Memelihara ayam dan kelinci memang sebuah hobi yang sangat tipikal Swiss, seperti mengelus-elus keelokan perkutut bagi masyarakat Jawa.
Jejak Mark Twain
Ada beragam panorama sekaligus kegiatan yang membuat Lucerne menarik bagi turis. Antara lain jembatan kayu kuno Lucerne, bangunan bangunan atau gedung-gedung masa lalu, puluhan museum, Danau Lucerne serta dua pucuk Pegunungan Alpen yang memiliki panorama sangat indah, yakni Gunung Rigi dan Pilatus. Mark Twain, penulis mashyur asal Amerika sampai perlu menulis buku kecil tentang kedahsyatan keindahan dua gunung ini.
Jalan-jalan di ruas kota Lucerne cukup menyenangkan, apalagi jika menginjak musim panas. Kotanya bersih seperti umumnya kota-kota di Swiss. Transportasi sangat bagus dan rapi. Tapi paling menawan sekaligus nyaman jika berkeliling Lucerne dengan jalan kaki saja. Mobil atau kendaraan bermotor akan berhenti setiap ada orang yang akan menyeberang jalan di jalur zebra cross. Lalu lintas Lucerne memang dikenal sebagai lalu lintas yang sangat menghormati pejalan kaki atau pesepeda.
Beberapa jalanan yang dipenuhi bangunan kuno gaya arsitek era Renaisance juga memiliki jalan yang khusus hanya untuk pejalan kaki. Sepeda pun, di kawasan semacam ini, dilarang masuk. So, jalan kaki sambil menjelajah kota ini dengan bayang-bayang bangunan kuno atau sekadar duduk di taman bermandi matahari sambil memberi makan angsa atau itik di pinggir danau, menjadi sebuah kegiatan yang begitu mahal untuk bisa dilakukan di Jakarta, misalnya.
Jangan pernah melewatkan untuk menjelajah Kapellbruecke, sebuah jembatan kayu dengan sebuah menara air yang begitu terkenal di kota ini. Dibangun tahun 1333, Kapellbruecke menjadi land mark kota ini. Hampir setiap kartu pos kota Lucerne sering menyertakan gambar Kapellbruecke dengan menara air beratap oktagonal itu. Kapellbruecke ini pernah separuh hangus dilalap api, termasuk lukisan kuno yang menggantung di atapnya pada tahun 1993. Namun diperbaiki lagi dan sekarang berfungsi seperti sedia kala.
Saban hari, ratusan turis dan masyarakat kota ini melewati jembatan kuno ini. Sayang, di beberapa tiang dan dinding jembatan kuno ini, terlihat vandalisme melalui coretan tangan dengan spidol atau ball point. Rata-rata sih ini ulah wisatawan karena terlihat seperti ingin menancapkan sebuah kenangan di kota ini.

Museum
Jika tertarik dengan benda kuno atau lukisan, Lucerne juga menyediakan tempatnya. Puluhan museum berada di kota ini. Namun yang paling menarik adalah Museum Transportasi dan Museum Pablo Picasso, pelukis aliran kubisme asal Italia. Museum Transportasi paling sesak dijubeli turis karena memang koleksinya paling lengkap dan besar. Namanya juga Museum Transportasi, isinya ya kendaraan, terutama kereta api di Swiss.
Sementara Museum Pablo Picasso menyerap turis yang ingin menyaksikan lukisan serta foto-foto sang maestro semasa hidup. Selain tempatnya yang berada di jantung kota, museum ini juga terawat dengan sempurna.
Bosan dengan museum atau suasana kota Lucerne, silahkan menikmati panorama Danau Lucerne. Banyak jadwal kapal yang akan mengangkut Anda untuk menikmati Danau Lucerne. Tinggal datang saja ke dermaga utama yang berada di dekat stasiun kereta api Lucerne ini, sejarak selemparan batu, dermaga itu sudah terlihat.
Sementara bagi yang ingin menikmati keindahan Lucerne dari tempat yang agak luas, bisa memilih tur atau jalan sendiri ke Gunung Pilatus atau Gunung Rigi. Dua gunung ini sangat terkenal di Lucerne. Bahkan ada idiom jangan mengatakan pernah ke Lucerne jika belum pernah mencapai kedua puncak gunung itu.
Namanya memang puncak gunung, tapi masyarakat Swiss sangat pintar untuk membuat sebuah tempat terpencil menjadi sangat gampang dijangkau. Maklum, ada kereta kabel gantung yang siap membawa turis ke kedua puncak gunung ini. Memang ada juga kereta biasa menuju ke kedua puncak itu, namun kereta ini akan tutup selama musim salju. Sementara kereta kabel gantung beroperasi sepanjang musim. Penulis Amerika Mark Twain yang pernah singgah di puncak kedua gunung ini, konon bisa sampai ke puncak dengan cara dipanggul di punggung orang lain. Maklum saja, zaman itu memang siapa saja yang ingin ke puncak Rigi atau Pilatus mesti jalan kaki, kecuali Mark Twain.


Thursday, November 13, 2008

Nama julukan: The Aloha State


Hawaii adalah sebuah negara bagian Amerika Serikat. Hawaii ditemukan oleh James Cook, seorang penjelajah Inggris pada 10 Januari 1778. Penduduk asli kepulauan Hawaii adalah suku bangsa Polynesia. King Kamehameha I yang terlahir pada tahun 1758, adalah raja besar yang pernah berkuasa atas kepulauan Hawaii sekitar tahun 1810. Dinasti Kamehameha diteruskan oleh keturunannya hingga Kamehameha V, yang mangkat pada 11 Desember 1872, yang merupakan penerus terakhir dinasti Kamehameha.

Sejarah kepemimpinan Hawaii masih diteruskan oleh beberapa nama besar kerabat keluarga Kamehameha seperti Lunalilo, Kalakaua, Liliuokalani, hingga akhirnya masuk dalam himpunan negara jajahan Amerika Serikat pada tahun 1900, dan disahkan sebagai negara bagian Amerika Serikat ke 50, pada 21 agustus 1959.

Pada kongres besar 1993, Presiden Clinton pernah meminta maaf kepada seluruh suku bangsa Hawaii, atas musnahnya dinasti kerajaan Hawaii. Hawaii merupakan salah satu pulau wisata papan atas di dunia, potensi keindahan alam serta wisata bahari yang "super indah" menjadikan Hawaii terkenal keseluruh pelosok dunia.

Tokoh terkenal lain asal Hawaii adalah Duke Kahanamoku, yang merupakan penemu olah raga selancar.


Phuket, Mutiara Laut Andaman

Phuket

Phuket (bahasa Thailand: ภูเก็ต) adalah sebuah pulau dan juga sebuah provinsi (changwat) Thailand. Pulau ini dilayani oleh Bandara Internasional Phuket, yang terletak di bagian utara pulau.

  • Phuket, Mutiara Laut Andaman

Untuk suatu liburan pantai yang sempurna, Phuket (dari bahasa Melayu, "Bukit") dapat menawarkan pilihan yang sangat lengkap. Lautnya yang tampak bagai batu permata jade dan safir, pantai dengan pasir yang putih bagai kristal, pasti akan membuang semua kepenatan dan memberi Anda ketenangan, rileksasi, dan kesegaran baru.

Jika Anda ingin lokasi yang lebih romantis, Anda dapat ke propinsi Trang di sebelahnya (tempat upacara perkawinan bawah air, kini tercatat di Guiness Book of Records). Atau bersama keluarga ke Rai Le Beach dan Ao Nang, dengan pantainya yang fantastis. Bagi yang berjiwa muda, Ko Lanta dan Ton Sai Bay di propinsi Krabi menawarkan keceriaan yang tak akan terlupakan.

Bagi pecinta selam, tempat penyelaman terbaik dunia antara lain ada di Surin dan Similan Island, yang memiliki ika-ikan terbesar dunia, hiu paus, bahkan manta rays dengan sayap lima meternya masih terkadang terlihat. Ingin memacu adrenalin? Cobalah rock climbing di tebing batu kapur yang sangat indah di propinsi Krabi. Bagi yang ingin tenang, cobalah berkano di Phang Nga Bay, penuh dengan formasi batu kapur unik bagai paku. Atau, nikmati golf di lima lapangan golf kelas dunia Phuket.

Sebagian besar atraksi ini tidak banyak terpengaruh oleh tsunami, dan telah kembali menjamu para wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Jadi, tidak perlu ragu, datanglah ke lokasi favorit dunia ini (berdasarkan survei oleh Lonely Planet tahun lalu).

Lokasi-lokasi pusat wisata:

Patong Beach
Pantai ini paling populer, sangat sempurna untuk berenang, berjemur, jet ski dan parasailing. Kehidupan malam dan tempat berbelanjanya juga menjadi favorit.

Kata Beach
Dua jalur pantai yang sangat mempesona, dan nikmatilah dengan pijat ala Thai di tepi pantai. Para peselancar datang ke Kata selama Juni sampai November untuk menaklukkan ombaknya.


Chalong Bay
Di sebelah selatan pulau, Chalong Bay membanggakan restoran-restoran lautnya yang sangat terkenal. Juga tersedia acara menangkap ikan hiu.

Phi Phi Island
Pulau ini menjadi lokasi film The Beach (Leonardo Di Caprio). Anda juga bisa melihat Viking Cave (dengan lukisan kuno di dindingnya), dan snorkeling.

Phang Nga Bay
Salah satu keajaiban alam dunia yang mempesona, dengan formasi bebatuan yang sungguh unik. Anda dapat pula melihat Bat Cave, atau ke pulau James Bond (tempat lokasi film The Man with the Golden Gun), atau mampir ke pulau Panyee, sebuah pulau yang dihuni oleh umat Muslim Thailand.

Patong Beach
Pantai utama di Pattaya ini merupakan garis lengkung sejauh 3 kilometer, dipagari tanaman tropis yang menyegarkan. Tempat favorit untuk berenang, rileksasi, dan berbagai olahraga air.

Rekreasi Lain:
Begitu banyak yang bisa dilihat dan dinikmati, seperti trek bersama gajah, Phuket Shell Museum, dan Phuket Fantasea, sebuah pertunjukan yang pasti membuat Anda terkesima.

Selain itu, jangan lupa kunjungi:

- Thai Village di Thepkasattri Road, menyajikan hidangan khas Thai selatan untuk santap siang dan santap malam, sembari menonton pertunjukan tari tradisional Thai, adu pedang, Thai boxing, serta gajah dan budaya setempat. Juga terdapat kerajinan tangan yang menarik.

- Peternakan Mutiara
- Pusat Kerajinan Tangan di Thepkrasattri Road, menampilkan seniman sutra, lacquer, perak dan perhiasan.
- Wat Chalong: kuil Buddha terbesar di Phuket.
- Chalong Bay: lokasi seafood terlezat di Phuket.
- Peternakan abalone (Abalone Farm): nikmati abalon segar dengan harga yang sangat murah!
- Chana Charoen Crocodile Farm: peternakan buaya

ACARA KHUSUS


- Vegetarian Festival

Perayaan paling besar di Phuket ini berlangsung selama sembilan hari pertama di bulan sembilan penanggalan Lunar (biasanya Oktober). Inilah saat di mana para penduduk Phuket keturunan China melakukan pola makan vegetarian untuk membersihkan diri agar mendapat berkah di tahun depan. Para penganutnya mengadakan pertunjukan yang menakjubkan, seperti menusuk diri, berjalan di atas api, dan menusuk tubuh dengan tombak.

- King's Cup Regatta

Setiap tahun di awal bulan Desember, Phuket Yacht Club menyelenggarakan lomba yacht internasional, merebutkan piala kerajaan dalam pertandingan dari Phi Phi Island menuju Phuket.

- Seafood Festival

Festival yang biasa diadakan di bulan Mei ini merayakan aneka hidangan laut yang terkenal di pulau ini. Antara lain diadakan Marine Tourism Resources Parade, gerai-gerai makanan, demonstrasi masak dan pertunjukan budaya.

- Phuket Travel Fair

Acara ini diadakan tanggal 1 November dan menampilkan berbagai aktivitas seperti olahraga air, kontes "Miss Visitor" dan sebagainya.

- Phuket Triathlon

Dalam bulan Oktober sampai November, diadakan triathlon (berenang 1,8 km, balap sepeda 55 km dan lari 12 km), yang menarik peserta dari mancanegara. Pemenangnya akan berlaga di triathlon "Ironman' di Hawaii.

Wednesday, November 12, 2008

Sibolga, Objek Wisata Yang Eksotik


Pulau Poncan, Sibolga

Pada liburan Imlek kali ini kami berkesempatan berlibur ke Pulau Poncan, Sibolga perjalanan panjang selama 8 jam kami mulai pada tanggal 8 Peb 2008. perjalanan dari Tanjung Morawa - Siantar kami tempuh selama 2 jam dan setelah beristirahat di rumah teman kami melanjutkan perjalanan pada pukul 22.00 WIB sebenarnya perjalanan malam sangat berisiko tetapi karena ingin mengejar tiba di Sibolga pagi hari maka kami tetapkan pilihan untuk tetap jalan pada malam hari.

Perjalanan terasa cukup berat sejak memasuki tarutung dan selama perjalanan Tarutung - Sibolga selain jalanan cukup rusak juga dipenuhi kabut sehingga jarak pandang semakin sedikit dan satu hal sewaktu kami melintasi jalan tersbeut sekitar pukul 4.00 yaitu saat paling mengantuk. tetapi dengan semangat juang yang tinggi akhirnya pukul 6 pagi kami memasuki kota Sibolga. satu hal yang cukup menarik disana karena pada jam 6 pagi telah terlihat Petugas Dinas Perhubungan di setiap sudut kota.

Akhirnya kami sampai juga di Hotel Wisata Indah, pos keberangkatan dari Sibolga ke Poncan adalah di Hotel WI yang sebelumnya terletak di Pelabuhan lama, tetapi karena berbagai alasan maka dipindahkan menjadi satu. setelah melapor ke piket akhirnya kapal yang menjemput tiba di pelabuhan. 20 menit kami habiskan untuk menempuh perjalanan dari Sibolga ke Pulau Poncan.

Setibanya di Pulau Poncan kami disambut oleh hamparan pasir putih dan deburan ombak yang menghantam dermaga membuat semuanya begitu indah dan pingin rasanya cepat-cepat berenang di pantainya tetapi akhirnya kami dikalahkan oleh kantuk yang benar-benar tidak bisa kompromi setelah perjalanan panjang.

Pemandangan alam di pulau poncan benar-benar sangat indah dilengkapi dengan batu-batu karang yang unik dan khas serta banyaknya gua-gua kecil yang terbentuk akibat terjangan ombak menjadikan suatu keunikan tersendiri pada pulau poncan, selain berpasir putih dan sangat lembut pantai nya juga bertebaran karang-karang laut yang kecil. sungguh semuanya itu sangat indah, tetapi keindahan pantai rupanya tidak luput juga dari ulah manusia yang membuat keindahan pulau tersebut sedikit tercoreng karena dibeberapa bagian pantai banyak berserakan sampah-sampah plastik dari pulau-pulau sekelilingnya.

Selain keindahan pantai dan banyaknya pulau-pulau kecil disekeliling poncan ada satu tempat yang telah menjadi tujuan kami dari awal yaitu mengunjungi bungker-bungker pertahanan Jepang pada PD II yang terletak pada puncak bukit pulau poncan, didalam pikiran kami bahwa bungker tersebut adalah seperti suatu bangunan yang didalamnya terdapat banyak jendela untuk melihat sekeliling pulau seperti yang ada pada film D-Day, tetapi setelah sampai diatas bayangan kami tidak seperti yang terlihat, bungker yang ada hanyalah suatu lobang yang digali serta berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya untuk melihat keadaan sekeliling serta mempertahankan pulau dari serangan pihak luar.

Tetapi semuanya terbayar lunas dengan pemandangan dari atas sangatlah indah karena sepanjang mata memandang dapat terlihat jelas suasana di bawah dan birunya laut sangat memukau.

Tuesday, November 11, 2008

Jalan - Jalan Ke Pulau Nias


Menyusuri Panorama Indah Nias

Setiap hari, puluhan orang terlihat memadati Bandar Udara Binaka. Sejumlah turis asing pun tampak sibuk membenahi perlengkapan selancar mereka di sela aktivitas masyarakat lokal.

Pulau Nias yang berlokasi di sebelah barat Pulau Sumatera, sekitar 85 mil laut dari Kabupaten Tapanuli Tengah atau Kota Sibolga, menjadi surga selancar bagi para penggila surfing. Bagi penggemar ombak lautan dan peselancar, keindahan pantai Sorake dan Lagundri yang terletak di Kabupaten Nias Selatan (Nisel) menjadi tempat perburuan ketiga di dunia. Ombaknya yang lincah nan gesit, menjadi ciri khas pantai Sorake dan Lagundri. Para pelancong mancanegara telah lama menggandrungi kedua pantai itu.

Meski letaknya terpencil, ternyata tidak memupuskan keinginan para peselancar professional. Mereka pun unjuk kebolehan sekaligus menguji ketangkasan di atas papan selancar.

Wilayah Pantai Sorake dan Lagundri masuk wilayah Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nisel. Meski tinggal di daerah wisata, kehidupan masyarakat setempat tidak seperti umumnya warga yang bermukim di pulau-pulau eksotik lainnya.

Dalam suatu diskusi panel bertajuk Aramba yang digelar oleh Public Information Centre (PIC) Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Perwakilan Nias di Omo Bale Museum Pusaka Nias, baru-baru ini, beberapa elemen masyarakat menyatakan, penduduk asli Nias adalah sokhi, yang berarti baik. Menurut sesepuh adat Nias, ami li moroi ba go juga sudah mendarah daging di masyarakat asli Nias. Dengan kata lain, ucapan atau sapaan lebih berharga bagi masyarakat asli Nias, ketimbang makanan yang paling enak.

Berdasarkan survei Kementerian Lingkungan Hidup pada 1987, masyarakat Nias setidaknya memiliki tujuh karaketristik khas. Ketujuh karakter itu antara lain, mereka masih percaya pada roh dan kekuatan gaib. Warga Nias lebih mengedepankan prestise daripada prestasi. Mereka sulit menerima hal baru sehingga hal-hal baru dianggap tabu. Penduduk Nias lebih mengutamakan kepentingan kelompok atau solidaritas kekerabatan ketimbang kepentingan umum. Orang Nias lebih senang menerima daripada memberi.

“Masyarakat Nias juga bude-bude atau kurang gemar berterus terang,” kata Melkhior Duha, ketua Badan Pemberdayaan dan Warisan Nias.

Melihat karakteristik tersebut, tak mengherankan jika situs megalitikum prasejarah masih tampak berdiri megah di Kecamatan Gomo. Situs itu diperkirakan telah berdiri lebih dari 3.000 tahun dan diyakini sebagai daerah awal mula penyebaran penduduk Pulau Nias. Perkampungan dengan rumah-rumah tradisional

tampak masih utuh, asli, dan berdiri kokoh. Hal itu bisa dijumpai di Desa Bawomataluo dan Hilisimaetano. Tempat itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong.

Satu-satunya rumah adat paling besar di Nisel terdapat di Desa Bawomataluo. Di Omo Sebua yang memiliki ukuran luas 300 meter ini banyak terdapat benda-benda dan ornamen. Benda-benda itu antara lain genderang perang berukuran besar, alat-alat perang, kepala rusa dan monyet, ukiran-ukiran patung dan rahang babi. Yang pasti, setiap benda tersebut memiliki nilai sejarah dan telah berusia ratusan tahun. Omo Sebua yang diperkirakan berusia 160 tahun, telah dihuni oleh beberap generasi. Selain digunakan untuk pertemuan para Si Ulu (golongan bangsawan) dan Si Ila, rumah adat besar itu dipakai untuk yang meletakkan jenasah para bangsawan. Keunikan lainnya yang terdapat di Desa Bawomataluo adalah budaya tarian perang dan lompat batu.

Karena keunikan budayanya, pada 2004, World Monument Fund melalui hasil penelitian UNESCO, menetapkan Omo Hada (rumah adat) di Desa Hilinawalo Mazingo, sebagai salah satu dari 100 situs dunia yang harus dilestarikan, seperti halnya Candi Borobudur, Taman Sari di Yogyakarta, dan Tanah Lot di Bali.
Keunikan lainnya adalah adat istiadat masyarakat Nias yang harus mengonsumsi daging babi tatkala menggelar prosesi kelahiran, perkawinan, kematian ataupun mangowasa (membuat atau menobatkan gelar adat) balugu (gelar adat Nias tertinggi).

Sejak 1960-an, Kabupaten Nias yang beribukota di Gunungsitoli memang terkenal sebagai penghasil ternak babi yang sangat besar. Bahkan, hasil ternak mereka dapat dijumpai pula di Singapura. Berternak babi merupakan usaha yang sangat terkait dengan adat istiadat di Kabupaten Nias.

Usaha pertanian tanaman pangan juga merupakan mata pencarian pokok penduduk Nias. Hasil pertanian mereka antara lain produksi tanaman pangan, seperti padi, palawija, dan hortikultura. Sebagian atau seluruh hasil pertanian itu dijual atau untuk menunjang kehidupan dan menanggung risiko. Komoditas andalan Kabupaten Nias lainnya adalah nilam. Komoditas nilam sempat mengalami booming pada 1997 hingga pertengahan 2000. Saat itu, harga minyak nilam pernah mencapai Rp 1,2 juta per kilogram. Ketika itu, kesejahteraan petani nilam di Kabupaten Nias sangat tinggi.

Pulau Nias juga memiliki potensi ikan luar biasa, baik ikan untuk dikonsumsi maupun ikan hias. Terdiri atas 132 pulau besar dan kecil, Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan menyimpan aneka ragam kekayaan sumber daya laut.

Terletak di sekitar garis khatulistiwa, rata-rata curah hujan di Kepulauan Nias cukup tinggi, yakni 260,00 mm per tahun. Akibat banyaknya curah hujan, kondisi alamnya pun sangat lembab dan basah. Musim hujan dan kemarau silih berganti dalam setahun.

Keadaan iklim di kepualuan Nias juga dipengaruhi oleh Samudera India. Suhu udara berkisar antara 17o / 32,6o dengan kelembaban sekitar 80 - 90% dan kecepatan angin antara 5-6 knot per jam. Musim badai laut biasanya berkisar September sampai November, tetapi kadang terjadi badai pada Agustus. Namun, cuaca bisa berubah secara mendadak.

Rekonstruksi Pascagempa


Pulau Nias merupakan daerah yang terletak di salah satu area aktivitas seismik terbesar di dunia. Menurut Dick Beetham, ahli geologi dan gempa bumi dari Selandia Baru yang saat ini bertugas di BRR dan UNDP Nias, sepanjang 100 kilometer di arah barat Nias tepatnya di dasar laut sepanjang Sumatera dan Jawa, merupakan batas lempeng tektonik. Daerah itu merupakan lempeng India-Australia yang tengah bersubduksi di bawah Sumatera dan Jawa dengan lokasi di tepian lempeng Eurasia. Rata-rata gerakan relatif dari dua lempeng tektonik tersebut adalah 60 mm per tahun.

Umumnya, lempeng-lempeng tersebut terkunci. Tekanannya bisa memunculkan suatu titik. Implikasinya, lempeng penghubung akan putus secara tiba-tiba dan menimbulkan gempa bumi dashyat.

Musibah bencana alam tsunami yang menimpa Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada 26 Desember 2004 dan gempa di Nias pada 28 Maret 2006, akibat bagian terdekat dari lempeng penghubung tiba-tiba putus atau lepas.

Bencana dashyat di Pulau Nias memberikan hikmah tersendiri bagi masyarakat Nias. Mereka menjadi terbuka bagi dunia internasional. Berbagai bantuan datang silih berganti dari negara-negara donor dan lembaga swadaya masyarakat LSM). Build back better pun dilakukan oleh BRR yang menetapkan anggaran Rp 10 triliun untuk pengembangan pulau Nias. “Kami ingin membangun Nias lebih baik,” kata William Sabandar, kepala kantor perwakilan BRR Nias.

Seiring dengan derap rekonstruksi Nias, BRR juga melaksanakan proyek jalan masuk ke Pantai Sorake dan Lagundri. Bersama dengan organisasi Yayasan Peduli Pantai Sorake (YPPS) dan SurfAid, tengah diusahakan pula pembersihan dan penanaman pohon mahoni serta cemara laut di sepanjang pantai dan jalan ke Sorake.

Untuk rehabilitasi rumah adat, khususnya di Kabupaten Nias dialokasikan bagi 50 unit rumah. Demikian juga di Nias Selatan (Nisel). Anggaran setiap unit rumah adat ditetapkan sebesar Rp 20 juta dengan total anggaran senilai Rp 2 miliar. Salah satu program rehabilitasi rumah adat yang berlokasi di Nisel, juga termasuk sebuah Omo Sebua di desa Bawamataluo yang sudah menjadi salah satu situs sejarah.
BRR juga akan merevitalisasi kebudayaan Nias yang sudah lama tidak dilaksanakan, yang disebut fondrako atau musyawarah adat baik di Nias maupun Nisel. Fondrako merupakan musyawarah adat Nias tertua yang menghasilkan beberapa ketentuan dan aturan menyangkut ketenteraman dan aspek kehidupan masyarakat.

Selain rencana pelaksanaan musyawarah adat fondrako, BRR akan merealisasikan satu program pembentukan pusat studi bahasa, seni, dan adat Nias. Pembentukan pusat studi ini diharapkan mendokumentasikan hal-hal yang berhubungan dengan bahasa, seni, dan adat istiadat Nias.

Di bidang kesenian tradisional, BRR menyediakan beberapa perangkat alat musik tradisional seperti lagia, doli-doli, tutuhao, fondrabi, aramba (gong) sekaligus faritia. Aramba dan faritia merupakan alat musik yang digunakan pada upacara adat Nias. Demi melestarikan alat musik tradisional, BRR akan mengupayakan pembinaan terhadap pengrajin lokal. Saat ini, para pengrajin alat musik aramba dan faritia hanya menggunakan bahan baku lempengan besi dengan cara memukul. Dulu, mereka membuat aramba dan faritia dengan melebur besi dan mencetaknya dalam cetakan khusus.

Pelestarian situs budaya pun tak luput dari program BRR. Untuk pelestarian situs budaya, direncanakan lokasinya di Kecamatan Gomo dan Lolowau. Sektor pariwisata di Nias dan Nisel, juga masuk dalam total angaran proyek BRR pada 2006. Di Nias direncanakan pada tiga lokasi dan Nisel satu lokasi yang akan dikembangkan, yaitu pantai Lagundri dan pantai Sorake. Nah, sudah saatnya Anda menjelajahi keindahan Pulau Nias !